18 September 2010

Nikmatnya Pulang Kampung

21 August 2010

Heavy Fun on Tidung Island (30-07-2010,01-08-2010

Dari beberapa refrensi mengenai pulau yang paling diminati di Kepulauan Seribu Jakarta, setelah meng-googling dan kaskusing. Hasil yang paling dominan yaitu Pulau Tidung, entah siapa yang mulai mempromosikan Pulau Tidung hingga menjadi pulau yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Untuk mempererat tali silaturahmi teman-teman gue sewaktu SMA, gue bikinlah event di jejaring sosial Facebook, gue kasih embel-embel biaya & kegiatan di Pulau Tidung (Tanpa Paket/guide) berbekal dari Googling & Kaskusing itu tadi yang ternyata kurang laku. Hingga H-2 hanya segelintir orang yang berminat yaitu : Tika, Dina dan Sintya yang nemenin gue ke sana. Hari Sabtu tanggal 31 juli 2010, setelah mempersiapkan segala sesuatunya, berangkatlah kita. Karena pengen berangkat dari Rawa Saban jam 07.00 (domisili kita di Tangerang, kecuali Dina yang orang Rawamangun) Meeting Point yang dipilih yaitu melalui Pintu Air Tangerang karena ada angkutan menuju Kampung Melayu Tangerang yang notabene menuju Rawa Saban. Yang dateng duluan Gue dan Dina (Dina nginep dirumah gue kebetulan) dan setelah menunggu setengah jam datanglah Sintya & Tika yang diantar mobilnya kakaknya Sintya. Pas mereka mau turun dari mobil, Sintya menawarkan untuk menumpang mobilnya hingga ke Kampung Melayu, Alhamdulillah, berarti pengeluaran untuk ongkos berkurang. Mungkin karena kasihan melihat kita yang emang belum tahu kondisi jalan sebenarnya, akhirnya kakaknya Sintya mengantar sampai Rawa Saban (walau harus nyasar dulu ke Tanjung Pasir dan beberapa kali tanya orang sana), yang ini lebih Alhamdulillah..hehehe.. Setelah sampe di Rawa Saban jam 09.30, yang pertama kali dilihat adalah Pasar yang becek, gue pun bertanya dalam hati, ini dimana ya dermaganya?? Tapi pas masuk agak dalam ketemu deh dermaganya.
Turun dari mobil, kita mulai sibuk nanya-nanya orang sekitar mengenai kapal yang menuju Pulau Tidung, dan dapet info kalau kapal baru akan datang sekitar jam 10.00. Kita pun menunggu di sebuah warung yang letaknya persis di depan dermaga. berikut foto report kami :



Setelah menunggu sekian lama, jam 12.15 kapal pun diumumkan akan segera berangkat, kita semua pun menaiki kapal yang ternyata berisi barang keperluan sehari-hari masyarakat Pulau Tidung kayak air galon, beras, tepung, sayuran,dsbg,dsbg sampai-sampai hampir seluruh kapal isinya barang. Setelah menentukan posisi duduk yang PeWe, kita mulai deh... TIDOOORRR!! Perjalanan cukup lama, sampai di Tidung jam 2.30 wuihhh jauh aja. Berikut suasana di dalam kapal :





Sampai Tidung kita dijemput oleh Pak Rasyid yaitu Bapak yang akan mengantar kita ke rumah yang akan disewa (Fyi, gue baru nyari-nyari tempat untuk bermalam setelah sampai di Rawa Saban, itupun susaaah banget, selain udah pada penuh, harganya juga tinggi, finally gue dapet rumah warga Ibu Yati-baeek deh orangnya yang rela rumahnya disewa dulu 1 malam dengan harga 200 ribu rupiah saja, Please don't do this, mending book dulu hari sebelumnya, hehe)
Jalan ke penginepan lumayan keringetan juga nih, Pak Rasyid sih enak naik motor. Lumayan buat warming up. Pas sampe rumahnya Ibu Yati, yyaaa.. Lumayanlah dapet 2 kasur spring ukuran 120, cukuplah buat ber-4. Berikut laporan gambar di Penginapan Rumah Bu Yati :





Kelar ber BA-BI-BU sama yang punya rumah plus Pak Rasyid udah mengantar Sepeda sewaan (Rp 10.000/sepeda/hari) kita sepakat untuk nyari makan, yang akhirya dianter sama Ibu Yati, makanan yang dijual di warung itu sama sih kayak di daratan, ada Ayam goreng, Ayam bakar, Soto, Ikan Kembung dll, yang semuanya dipatok sama Rp 15.000 plus nasi. Berikut laporan warung makan yang gak jauh dari penginepan kita :

Alhamdulillah kenyang, sekarang waktunya bakar kalori! Hahahaha... Karena udah hampir jam 5. Gue langsung aja nyuruh anak-anak ambil sepeda terus langsung deh menuju tempat paling barat pulau, dan beberapa kali berhenti buat nyari spot SUNSET yang woke deh.. Ni dia lokasi paling Barat Pulau Tidung yang untuk ke sana harus melewati jarak bersepeda berkilometer dan bersemak tinggi :






Enggak lupa juga kita pose-pose dikit hehehe, walau harus bergantian fotonya :






Tapi sayang banget kita cuma nikmatin pre-sunset saja, sebab musababnya kita musti kembali ke penginepan karena disekitar lokasi gelap & ga ada penerangan, jauh pula. Kembalilah kita semua ke atas sepeda masing-masing. Tapi, setelah berkayuh cukup lama & udah maghrib pula, kok.. ga sampe-sampe gitu ke penginepan, lama-lama makin dicari makin ga ketemu, alhasil NYASAR lah kita. Dalam keadaan capek kita coba nyari pelan-pelan penginepan, inget-inget bentuk rumah atau warna penginepan. Pasrah, udah ngubek-ngubek pulau ga ketemu juga tuh rumah, kesel, kita telpon Pak Rasyid. Dari petunjuk-petunjuk arah yang diberikan Pak Rasyid, akhirnya sampe juga di penginepan... THANK GOD!!. Kelar Mandi & Sholat, ngga kayak pengunjung yang lain yang lagi barbeque-an atau karaokean, gue dan teman-teman memilih istirahat(nonton TV) atau tidur, kita kan ke sini gak paketan, nekat iye. Walau berkali-kali hape Dina bunyi ditelepon Pak Rasyid yang mengajak bakar-bakar ikan free tapi tetep aja, mata sama body udah gak kuat.. Keesokan paginya, abis kelar sholat, tancep lagi kita di atas sepeda menuju Lokasi Paling Timur Pulau Tidung yang gak lain gak bukan yaitu JEMBATAN CINTA, walau agak telat sih liat Sun Rise-nya. Tapi selama perjalanan ke sana Udara dan Pemandangannya mantap sekali. Hehe, berikut reportasenya :








Oiya, kalo mau nyebrang ke Pulau Tidung Kecil melalui Jembatan Cinta, kita tidak diperbolehkan membawa sepeda, sepeda bisa kita titip ke tempat penitipan sepeda, gak tau sih berapa biayanya tapi pas balik gue bayar aja 4.000 untuk 4 sepeda. Sayang banget ga bisa bawa sepeda ke Pulau Tidung kecil, mau keliling disana gak jadi karena cukup jauh juga treknya. Hikz..




Hei, hei, hei nama boleh jembatan cinta, tapi kok gue gag kenalan sama satu orang cowok nih, payah deh. Eits, jangan sedih dulu, soalnya pemandangan di Jembatan Cinta tuh amaze abiss, gak usah susah-susah snorkling karena air laut yang transparan langsung memberikan panorama bawah laut yang oke banget.





Setelah kelar liat-liat di Tidung kecil kita kembali lagi ke Tidung besar, karena tadi pagi cuma sarapan roti yang dibawa dari rumah, perut teriak lagi minta diisi, FYI, ada banyak warung tenda yang jual makanan, gue nyari sih yang pasti ada kelapa muda utuh, untuk makanan gue pesen Indomie, sedangkan teman-teman yang lain ada yang memesan Nasi goreng. Untuk harga makanan di Pulau ini cukup mahal, untuk Es kelapa muda utuh dihargain Rp 7.000, Nasi goreng Rp 10.000 dan Nasi goreng Rp 10.000.



Kelar makan kita balik ke penginepan untuk mandi dan siap-siap Pulang ke daratan.
Setelah mandi dan merapikan bawaan, jam 1 siang stand by di Dermaga menuju Muara Angke, Ongkos Perahu sebesar Rp 33.000, dapet info dari Pak Rasyid, sebenarnya ongkosnya Rp 30.000, tetapi Rp 3.000 itu diambil untuk pembangunan masjid di Pulau Tidung sesuai dengan keputusan bersama masyarakat sana.

3 jam lamanya di perahu, akhirnya sampai juga di Muara Angke, Kita ber-4 lanjut naik angkot B01 jurusan Muara Angke-Grogol Rp 5.000/orang. Sampe di Grogol, Dina yang orang Rawamangun mutusin naik Busway, sementara kita bertiga warga Tangerang naik bi=us jurusan Grorgol-Tangerang Rp 2.500. Sebenernya gue pribadi kurang puas Liburan di Pulau Tidung kemarin karena gue belom snorkling dan naik banana boat, dikarenakan emang budget kita yang gak banyak. Tapi ambil aja hikmahnya, pasti ada dong... Insya Allah gue mau kesana lagi, mau puas-puasin Yeaaaahh!!